Senin, 12 November 2012

Konsep Dasar Otak




Menurut Howard Gardner, ahli pendidikan yang memperkenalkan teori Multiple Intelligences (MI, kecerdasan majemuk). Banyak orang berpikir bahwa yang disebut cerdas hanyalah mereka yang cerdas di bidang bahasa dan matematika. Padahal, matematika dan bahasa hanyalah dua dari tujuh jenis kecerdasan yang dimiliki manusia. Nilai rapor, IPK, bahkan IQ hanya mengukur dua kecerdasan ini.

Tentu, ditilik dari kecerdasan kinestetis pastilah Tyson jauh lebih cerdas daripada Einstein dan Rudi Hartono jauh lebih cerdas daripada Habiebie! Ketika seseorang mengalami kecelakaan dengan cedera berat pada kepalanya, manakah yang lebih diperlukan:
- seorang perawat lulusan akademi perawat? ataukah
- seorang guru besar ekonomi lulusan universitas luar negeri?
Kebanyakan orang menjawab:
-- perawat, sekalipun ia cuma lulusan akademi.

Kenyataan ini sekaligus menunjukan bahwa kecerdasan bersifat kontekstual.
Problem yang dihadapi ataupun konteks yang ada menjadi faktor penting ketika predikat cerdas harus diberikan. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama ketika kecerdasan majemuk atau multiple intelligences akan diterapkan.
Ketujuh kecerdasan majemuk itu bukan bagian-bagian yang terpisah dari kecerdasan manusia. Semuanya terintegrasi dan saling terkait satu sama lain.

Ada tujuh kecerdasan itu :
1. Linguistik
2. Matematika
3. Spasial
4. Kinestetis
5. Musik
6. Antarpribadi
7. Interpribadi

Ini merupakan potensi-potensi yang dengan kadar berbeda-beda ada pada setiap orang. Seseorang mungkin saja memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol, tetapi kadar kecerdasan musiknya rendah. Contohnya seperti Marilyn Monroe yang memiliki kecerdasan kinestetis dan musik yang tinggi namun kecerdasan matematikanya rendah. 
Demikian halnya dengan ketua MPR Amien Rais. Ia pasti memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi(karena profesor dan pandai berpidato) dan kecerdasan musik yang biasa-biasa saja(karena ia mulai menyanyi lagu campur sari, seperti tembang Ojo Lamis, Ojo Diploroki, dan lain-lain), tetapi dengan kecerdasan spasial yang rendah.

Masih banyak contoh yang dapat disebutkan. Yang jelas, setiap orang memiliki tujuh jenis kecerdasan itu. Masalahnya, pendidikan di Indonesia cenderung mengoptimalkan satu atau dua kecerdasan saja. Penghargaan pun masih untuk satu atau dua kecerdasan saja.
Oleh karena itu, tugas yang paling berat adalah optimalisasi tujuh kecerdasan itu. Ini artinya optimalisasi seluruh otak!


Walaupun bukan hal yang baru - karena MI telah diperkenalkan Gardner sekitar 20 tahun yang lalu - konsep dan penerapan kecerdasan majemuk ini belum banyak diketahui.
Namun, terutama yang patut disyukuri adalah adanya dukungan ilmiah bahwa otak manusia berperan penting dalam kecerdasan dan kesuksesan. Jika selama ini otak manusia belum dipakai secara utuh(whole brain).


Di Indonesia, otak manusia menjadi raksasa tidur yang belum dikelola.
Yang betul-betul spektakuler adalah fakta bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional(IQ), emosional(EQ), dan spiritual(SQ). Ini artinya, secara kodrati, manusia telah disiapkan sedemikian rupa untuk merespon segala macam hal dengan tiga aspek tersebut. Dalam satu kepala memang ada tiga pikiran: rasional, emosional-intuitif, dan spiritual.

0 komentar:

Poskan Komentar